/s e t e l a h s e k i a n l a a a a m a/
Saya akan post lagi. Kali ini karya singkat yang diciptakan beberapa tahun yang lalu dengan tidak sengaja.
Banyak kekurangan di sana sini, tapi biarlah.
Selamat membaca:)
LANGIT YANG MENYATU
“ bukk..!. “ suara itu menghentikan sejenak langkah kecil
Aga. Tanpa sadar dan spontan kepalanya menengok ke belakang, asal suara itu.
Dilihatnya seorang yang asing di matanya. Aga mendekat, dan mengambil beberapa
buku yang terjatuh itu dengan maksud membantu. Di sela- sela jatuhnya buku itu
terlihat sebuah origami kertas yang berbentuk perahu. Aga lalu memberikan buku
itu ke pemiliknya dan bermaksud mengajak berkenalan. Ditanya nya tentang
perempuan asing itu. Jawaban yang didapatnya adalah perempuan itu bernama
Achyan. Achyan adalah orang baru di wilayah tempat tinggal Aga. Perempuan
berdarah Jepang itu adalah seorang dengan hobi yang sama dengan Aga, yaitu
membaca dan mengoleksi buku.
…
Dirumah, entah kenapa Aga memikirkan Achyan. Dia tak memikirkan
tentang diri Achyan, tapi justru ia memperhatikan perahu kertas Achyan yang
tadi jatuh di sela buku- buku Achyan. Sebuah perahu sederhana dari kertas
berwarna biru air yang dirasakannya dibuat oleh Achyan dengan setiap lipatan
yang rapi dan teliti. Aga semakin penasaran dengan Achyan, dan sepertinya dia
semakin ingin tahu Achyan lebih dalam dan menjadi sahabatnya.
…
Pagi ini, seperti biasa, Aga lakukan kebiasaannya setiap
pagi, yaitu berjalan- jalan di kompleks perumahan dengan sebuah buku berjudul “
We Are One”. Ditengah perjalanan, tak disangka olehnya ia akan bertemu lagi
dengan Achyan yang juga membawa buku . tapi berjudul “ New Friend”. Mereka lalu
memutuskan untuk melewati pagi bersama. Mereka berlari, bertukar buku, dan
membeli susu bersama.
Hari ini, Aga dan Achyan berencana untuk pergi ke toko buku.
Aga berencana akan membeli buku terbaru karya Rialita Asmara. Achyan hanya
ingin membeli sepaket kertas origami. Mereka hanya berjalan kaki karena toko
buku di kompleks tidak terlalu jauh. Di perjalanan, tiba- tiba ponsel Achyan
berbunyi
“ Ting,.. Ting,.. Ting ting ting.. “
Achyan lalu menerima panggilan itu, dan satelah beberapa
saat, ponselnya jatuh ke tanah dan Aga pun melihat wajah Achyan yang tidak
seceria sebelumnya. Perlahan air mata Achyan jatuh dan membasahi bajunya, dan
suara tangis kacil pun terdengar. Aga segera berusaha menenangkan Achyan dan
mencoba menghapus air matanya. Setelah Achyan lebih tenang perlahan Aga mulai
menanyai mengapa Achyan menangis. Ternyata orang yang menelepon Achyan adalah
Paman Mario, adik kandung papanya Achyan. Dia mengabarkan bahwa papa Achyan
mengalami kecelakaan kapal laut dan besok adalah hari pemakaman papa Achyan.
Dengan terpaksa mereka membatalkan rencana mereka sampai keadaan kembali baik.
Aga lalu mengantar Achyan pulang ke rumahnya. Karena papa Achyan berada di
Jepang dan akan dimakamkan di sana, tentu malam ini Achyan harus pergi ke
Jepang. Kesedihan Achyan bertambah lagi karena Aga tidak bisa mengantar Achyan
pergi ke bandara.
…
Di pesawat, hanya ada dua benda yang seolah mengendalikan
perasaan Achyan. Hanya foto papanya yang selalu membuatnya meneteskan air mata
dan sebuah perahu kertas kecil buatan Aga yang sedikit memunculkan senyumnya
saat teringat Aga. Tapi Achyan berusaha untuk tetap tegar karena teringat kata
Aga bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian pada Makhluk-Nya bila makhluk-Nya
tak dapat mengatasinya.
…
Di Jepang, di rumah Achyan sudah tersiapkan semua kebutuhan
untuk pemakaman papa Achyan tentu dengan adat Jepang. Dan saat di sana tak
sedikit orang dan tetangga Achyan yang masih mengenalinya , memeluk Achyan
seraya berkata
“はいお悔やみ、Achyan” [Okuyami wa i, Achyan ( turut berduka cita ya,
Achyan ) ]
“はい、ありがとうございます” [Hai, arigatōgozaimasu ( iya, terima kasih ) ]
…
Tiga mingu sudah berlalu. Aga terus menunggu kedatangan
Achyan kembali ke Indonesia. Aga terus mengkhawatirkan Achyan . karena selama
Achyan di Jepang Achyan tak pernah mengabarkan apapun pada Aga baik lewat surat
maupun ponselnya. Suatu malam, karena terlalu memikirkan Achyan , sampai sampai
Achyan muncul di mimpi Aga. Mimpi Aga adalah mimipi buruk!! Aga memimpikan
Achyan mati dibunuh oleh orang saat perjalanan kembali ke Indonesia. Di mimpi itu,
orang yang membunuh Achyan sama dengan orang yang mencelakai kapal yang
ditumpangi papa Achyan. Karena khawatir dengan keadaan Achyan, Aga lalu
berusaha untuk tetap menyambung kontak dengan Achyan.
Setelah berpikir beberapa lama, Aga lalu memutuskan jalur
internet, lebih tepatnya E-mail. Akunnya lalu terbuka, dan setelah dicari- cari
akun Achyan , akhirnya akun Achyan ketemu juga. Aga lalu mencoba untuk
mengirimkan pesan kepada Achyan. Namun, setelah dicoba untuk dikirim, tapi
server tak dapat mengirim.
“Mengapa pesan ini tak dapat dikirim?” pikirnya dalam hati.
Tiba- tiba, notifikasi pesan baru di akun Aga bertambah 1.
Setelah dibuka, pesan itu adalah pesan dari Achyan. Pesan itu berisikan pesan dari
Achyan supaya Aga tidak mencemaskan dirinya.
Setelah dicari- cari alasannya beberapa saat, Aga lalu
menemukan penyebabnya. Ternyata Aga dan Achyan tadi mengirim pesaan mereka
bersamaan, sehingga kedua pesan tersebut tak dapat terkirim sampai salah satu
menghentikan pengiriman. Setelah mereka bertanya- tanya dan saling menjawwab,
ternyata mimpi Aga benar, Achyan tak bisa kembali ke Indonesia karena teror
orang yang mencelakai papa Achyan. Dengan rasa terpaksa yang saling menghantui
hati dan jiwa satu sama lain, Aga dan Achyan harus terpisahkan. Achyan harus
tinggal di Jepang bersama keluarganya. Aga dan Achyan menitikkan air matanya
yang sepertinya tak ingin menetes. Setelah beberapa hari, entah mengapa Aga
teringat akan sebuah perahu dari kertas milik Achyan. Dari matanya, Achyan
memang terlihat sangat menyukai origami, kesenian khas Jepang, terutama yang
berbentuk perahu. Aga lalu berpikr, jika dia tak bisa lagi bertemu Achyan,
setidaknya dia masih bisa membuat Achyan bahagia. Aga lalu membuat 21 buah
origami perahu untuk dikirimkan kepada Achyan.
Setelah Achyan menerima origami perahu dari Aga dan membaca
surat dari Aga, senyuman kecil nan manis mulai terlihat di bibir Achyan. Ia
lalu mengirimkan pesan E-mail kepada Aga, entah pesan itu terbaca oleh Aga
ataupun tidak, yang penting sekarang Achyan berusaha untuk melanjutkan hidupnya
tanpa Aga. Dan ia juga yakin bahwa Aga juga akan tegar tanpa dirinnya.
Kini sepasang sahabat yang bernama Aga dan Achyan telah
menjadi sahabat yang melayang- layang di antara langit Jepang dan Indonesia.
Namun dibalik itu semua, mereka yakin Tuhan memiliki rencana lain yang lebih
baik untuk kehidupan mereka yang selanjutnya.
tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar